Beranda Asal Usul Legenda Dewi Kwan Im Po Sat

Legenda Dewi Kwan Im Po Sat

BERBAGI
film legenda dewi kwan im

Sangbuddha.com – Legenda Dewi Kwan Im, atau Dewi Guan Yin adalah Dewi Welas Asih dan penyayang yang kondang dipuja penduduk Tiongkok dan perantauannya di dunia. Sebutan ‘Kwan Im’ sendiri berasal dari bahasa Hokkian yang umum dipergunakan mayoritas suku Tionghoa di Indonesia.

Secara harafiah, Guan 觀 bermakna “melihat”, dan Yin 音 bermakna “suara/mendengar”. Jadi, asal memandang atau mendengar ada yang minta tolong (khususnya perempuan), Dewi ini yang selalu datang/turun menolong.

Menurut ajaran Buddhisme

Kwan She Im Phosat (Hanzi : 觀世音菩薩, Pinyin : Guan Shì Yin Pu Sa) yang merupakan terjemahan langsung dari nama aslinya di dalam bahasa Sanskerta, Avalokitesvara Bodhisattva.

Menurut ajaran Taoisme/Daoisme

Guan Yin Dashi (觀音大士), Cihang Dashi (慈航大士), atau Cihang Zhenren (慈航真人), Cihang Daoren (慈航道人).

Legenda Dewi Kwan Im Versi Taoisme Dan Bhuddisme

Dewi Kwan Im sendiri ada di dalam wujud perwujudan perempuan muda, yang awalannya menspesialisasikan untuk menopang kaum perempuan. Karena terhadap masa dulu, kehidupan kaum perempuan serba terbatas, dan lebih mementingkan laki-laki

Jadi terhadap masa pernah dikisahkan, mereka (kaum wanita ini) kadang ada rintangan atau rintangan yang perlu dihadapi sendiri, bila ketika dapat melahirkan, atau dikejar hewan buas di hutan, atau tenggelam di sungai. Nah, ketika mengalami kondisi2 yang demikian, permintaan kadang hanya bisa dimohonkan/disampaikan keatas.

Karena tekanan budaya paternalistik inilah, agar kaum perempuan dianggap butuh satu figur Dewi, yang dianggap bisa mengayomi dan merawat mereka. Selain itu banyak yang melukis Dewi Kwan Im sebagai seorang perempuan, yang berumur sekitar 30-an, dan tidak ada titik merahnya di dahinya.

Versi lain mengatakan, bahwa Dewi Kwan Im Po Sat sendiri asalnya/awalnya dilukiskan bersifat laki-laki, yang berasal dari India. Penyebaran dan pengaruhnya menjadi menjadi di daratan Tiongkok terhadap awal masa Dinasti Tang (618-907).

Namun terhadap awal Dinasti Song (960-1279), sekitar abad ke-11, beberapa dari pengikut/umat melihat-Nya sebagai sosok wanita, yang sesudah itu menjadi dilukiskan oleh para seniman pelukis dan pembuat patung.

Perwujudan Kwan Im sebagai sosok wanita lebih menyadari terhadap masa Dinasti Yuan (1206-1368). Pada Dinasti Ming (1368-1644), atau sekitar abad ke-15, Dewi Kwan Im dikenal sebagai seorang wanita.

Guan Yin versi Buddhisme disebutkan bernama Avalokitesvara Bodhisattva (yang dikatakan dari India); kala tokoh Guanyin Niangniang versi Taoisme adalah figur yang disesuaikan dengan suasana penduduk Tiongkok ketika itu.

Masyarakat Tiongkok terhadap masa pernah memeluk kepercayaan rakyat (Chinese folk religion), menyebut perempuan dengan sebutan Niangniang (娘娘).

Perbedaan lainnya adalah, Avalokitesvara Bodhisattva punya daerah suci di gunung Potalaka, Tibet, tetapi Kwan Im Niangniang punya daerah suci di Pulau Putuo Shan, Kepulauan Zhou Shan, Propinsi Zhejiang Tiongkok.

Baca Juga: Buku Sutera Hukum Sebab Akibat Dalam Agama Buddha

Legenda Dewi Kwan Im yang Popular (versi Buddhisme)

Banyak cerita tentang asal-usul tentang Dewi Kwan Im di penduduk Tiongkok. Salah satu yang paling tenar adalah cerita tentang Legenda Putri Miao Shan (妙善).

Menurut cerita tersebut, Putri Miao Shan merupakan anak dari Raja Miao Zhuang penguasa Negeri Xing Lin.

Singkatnya, beragam langkah diusahakan oleh Raja Miao Zhuang supaya puterinya senang lagi ke istana dan menikah, tetapi Puteri Miao Shan selamanya bersiteguh bersama pendiriannya. Kemudian suatu ketika, Raja Miao Zhuang marah besar dan memberikan perintah kepada  prajurit istana untuk menangkap dan menghukum mati sang puteri.

Setelah kematiannya, arwah Puteri Miao Shan mengelilingi neraka. Karena menyaksikan penderitaan makhluk-makhluk yang ada di neraka, Puteri Miao Shan berdoa bersama tulus supaya mereka berbahagia. Secara ajaib, doa yang diucapkan bersama penuh welas asih, tulus dan suci mengubah suasana neraka menjadi seperti surga.

Penguasa dunia akhirat, Giam Lo Ong, berubah pikiran. Akhirnya arwah Puteri Miao Shan diperintahkan untuk lagi ke badan kasarnya. Begitu bangkit berasal dari kematiannya, Buddha Amitabha muncul di hadapan Puteri Miao Shan dan memberikan Buah Persik Dewa untuk dimakannya.

Dengan memakan buah persik tersebut, sang Puteri tidak lagi mengalami rasa lapar, berubah menjadi tua, dan mengalami kematian. Buddha Amitabha lalu menganjurkan supaya Puteri Miao Shan berlatih meraih kesempurnaan di gunung Pu Tuo.

Akhirnya Puteri Miao Shan pun mengikuti perintah Buddha Amitabha untuk pergi ke gunung Pu Tuo dan diantar seekor harimau jelmaan berasal dari Dewa Bumi.

Miao San Menyelamatkan Raja

Sembilan tahun berlalu, suatu kala Raja Miao Zhuang menderita sakit parah. Berbagai tabib termasyur dan obat sudah dicoba, tapi seutuhnya gagal. Puteri Miao Shan yang mendengar kabar tersebut, lantas menyamar menjadi seorang Pendeta tua dan berkunjung menjenguk. Namun terlambat, sang Raja sudah wafat.

Dengan kesaktianNya, Puteri Miao Shan menyaksikan bahwa arwah ayahNya dibawa ke neraka, dan mengalami siksaan yang hebat. Karena ingin lebih berbakti kepada ayahNya, Puteri Miao Shan pergi ke neraka untuk menolong. Pada sementara dapat menopang ayahNya untuk melewati gerbang dunia akherat, Puteri Miao Shan dan ayahNya diserbu setan-setan kelaparan. Agar mereka bisa melewati setan-setan kelaparan itu, Puteri Miao Shan memotong tangan untuk dijadikan santapan setan-setan kelaparan.

Setelah hidup kembali, Raja Miao Zhuang memahami bahwa bhakti ketiga putrinya terlalu luar biasa. Akhirnya sang Raja menjadi memahami dan mengundurkan diri dari pemerintahan dan juga berbarengan dengan keluarganya pergi ke gunung Xiang Shan untuk bertobat dan ikuti jalan Buddha.

Rakyat yang mendengar bhakti Puteri Miao Shan sampai sudi mengorbankan tanganNya menjadi terlalu terharu. Berbondong-bondong mereka memicu tangan palsu untuk Puteri Miao Shan.

Buddha O Mi To Hud (amitabha) yang memahami perihal itu segera menopang dan beri tambahan “Seribu Tangan dan Seribu Mata, sehingga Beliau bisa mengawasi dan beri tambahan dukungan lebih banyak kepada manusia.

Buddha O Mi To Hud yang menyaksikan ketulusan rakyat, termasuk merangkum seluruh tangan palsu tersebut dan mengubahNya menjadi suatu wujud kesaktian dan juga memberikannya kepada Puteri Miao Shan.

Kemudian, Ji Lay Hud memberikan gelar kepada Miao Shan gelar Qian Shou Qian Yan Jiu Ku Jiu Nan Wu Shang Shi Guan Shi Yin Phu Sa, yang artinya Bodhisatva Kwan Im Penolong Kesukaran Yang memiliki Seribu Tangan dan mata, Buddha O Mi To Hud (Amitabha).

Demikian kisah Legenda Dewi Kwan Im menurut ajaran Taoisme dan Buddhisme

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here