Beranda News Kematian Adalah Pasti Dalam Ajaran Agama Buddha

Kematian Adalah Pasti Dalam Ajaran Agama Buddha

BERBAGI
dalam hidup kematian adalah pasti

Kematian Adalah Pasti Dalam Ajaran Agama Buddha – Dalam Hidup Kematian Adalah Pasti, apabila menyangkal kematian serupa saja menyangkal kenyataan. Kelahiran serta kematian merupakan satu paket kehidupan yang tidak bisa dipisahkan. Kala seorang dilahirkan, beliau telah pasti hendak mati sesuatu dikala esok. Jauh saat sebelum agama- agama timbul, yang namanya kematian telah diketahui serta terjalin. Serta tidak seseorang juga dapat kabur dari jeratan kematian.

Munculnya seorang Buddha adalah cahaya dalam kegelapan. Buddha mengajarkan untuk tidak menolak atau menakuti kematian, tetapi menerima kematian sebagai suatu kenyataan.. Tidak terdapat yang abadi serta kekal dalam hidup ini. Seluruh yang ialah kombinasi faktor hendak senantiasa hadapi pergantian serta sirna. Tentu kematian hendak menghadiri siapapun yang hidup. Tanpa melainkan, kita seluruh beranjak mengarah kematian. Apabila telah waktunya datang, tidak seseorang juga dapat menjauh dari kematian.

Dalam Dhammapada kalau tidak terdapat satu juga tempat di bumi ini, bagus di langit, di tengah samudra, di dalam terowongan ataupun di pucuk gunung, yang bisa digunakan seorang buat menjauh dari kematian( Na antalikkhe na samuddamajjhe, na pabbatānaṃ vivaraṃ pavissa; Na vijjatī so jagatippadeso, yatthaṭṭhitaṃ nappasaheyya maccu. Dhp. 128).

Kematian akan datang kapan saja tanpa memandang umur, pangkat, status, kekayaan, bagus ataupun jeleknya seorang. Siapapun yang telah dilahirkan, beliau merupakan poin kematian (maraṇadhammo). Buddha mengatakan,

“ Bagus yang belia ataupun berumur, tidak hirau apakah mereka dungu ataupun bijak, terperangkap oleh kematian. Seluruhnya beranjak mengarah kematian( Daharā ca mahantā ca, ye bālā ye ca paṇḍitā; Sabbe maccuvasaṃ yanti, sabbe maccuparāyaṇā. Sn. 578). Bagaikan dedaunan tumbuhan yang gugur, kematian tidak memilih- memilih. Daun- daun yang jatuh tidak cuma yang berumur saja, terdapat yang sedang menguning, terdapat yang sedang hijau, serta apalagi terdapat yang terkini bersemi. Serupa perihalnya dengan kematian, tidak cuma yang berumur saja, yang berusia gagah serta bagak, yang sedang belia, serta apalagi yang sedang kanak- kanak pula hadapi kematian. Ketentuan kematian bukanlah wajib berumur. Hingga siapapun wajib sedia menyambut datangnya kematian yang tidak dapat diprediksi.

Kehidupan tidak dapat diprediksi hingga berapa lama seorang hidup. Sebab siapapun tidak ketahui bila kematian hendak tiba. Dalam hidup, seluruh senantiasa berganti serta tidak tentu. Kadangkala terletak di atas serta kadangkala terletak di dasar. Situasi hidup bagaikan cakra yang senantiasa berkeliling. Yang profit tidak selamanya profit. Yang segar tidak selamanya segar. 8 situasi kehidupan, semacam profit serta cedera, dipuji serta dicela, termansyur serta tidak termansyur, senang serta gelisah, senantiasa tiba silih bertukar serta tidak tentu. Tetapi kematian telah pasti hendak tiba. Sebab itu dalam agama Buddha, kehidupan bukanlah tentu( addhuvaṃ jīvitaṃ), tetapi kematian telah pasti( dhuvaṃ maraṇaṃ); kehidupan bukanlah tentu( jīvitameva aniyataṃ), namun kematian merupakan tentu( maraṇaṃ niyataṃ. DhpA. III. 171).

Metode berfikir Buddhis dalam menyikapi kematian merupakan menyambut kematian selaku perihal yang alami serta jelas. Siapapun wajib bijak dalam menyikapi kematian, bagus dikala memandang orang lain tewas ataupun dikala diri sendiri hendak tewas. Dengan uraian yang betul serta kebijaksanaan, seorang hendak gampang menyambut keberangkatan orang yang dicintainnya, ataupun beliau sendiri hendak tewas dengan hening sebab mempunyai uraian yang betul mengenai kematian. Dhamma menolong menguasai kenyataan kehidupan, bukan menolaknya. Dhamma membimbing buat menyambut realitas, bukan menolaknya.

Untuk yang tidak menguasai realitas dengan betul, mereka hendak sedemikian itu terhimpit serta tidak dapat dengan kematian. Sebagian apalagi jadi edan sebab tidak menerimanya selaku realitas. Di era Buddha sedang hidup, seseorang bunda rumah tangga yang bernama Patacara, jadi edan sebab kehabisan banyak orang yang dicintainya. Beliau ditinggal mati suami tercintanya yang dipatuk ular dikala akan mendatangi rumah ibu dan bapaknya. Pada dikala yang serupa, beliau kehabisan kedua putranya, yang satu dibawa oleh kukila raksasa serta yang satu larut terbawa oleh derasnya arus bengawan. Penderitaanya tidak cuma menyudahi hingga di sana. Beliau dengan amat pilu kembali mengarah desa ibu dan bapaknya. Kesedihannya melambung ketika mengikuti kalau ahli keluarganya sudah tewas sebab rumahnya dibakar. Patacara jadi edan sebab terhantam oleh kesedihan yang berkali- kali ini. Kesimpulannya beliau berjumpa dengan Buddha, serta Buddha sukses mengembalikan kesadarannya dengan memberikannya ajakan Dhamma.

Kisa Gotami merupakan ilustrasi yang lain. Dikisahkan Kisa Gotami jadi edan serta stress sebab anak salah satunya yang sedang anak tewas. Beliau meratap serta mengembara sembari bawa jenazah buah hatinya kisaran desa, serta teriak- teriak memohon bantu biar buah hatinya dihidupkan kembali. Tetapi tidak seseorang juga menolongnya, sebab mana bisa jadi orang yang telah mati dihidupkan kembali. Kesimpulannya beliau berjumpa dengan Buddha. Di situ Buddha berkata kalau beliau hendak menolongnya, tetapi dia memohon Kisa Gotami buat mencari bulir cabai di rumah masyarakat di mana tidak terdapat kematian di ahli keluarganya. Sehabis mencari ke situ kemari, tenyata tidak satu juga keluarga yang terbebas dari kematian. Maksudnya kalau tiap keluarga tentu sempat kehabisan orang yang mereka cintai. Kesimpulannya Kisa Gotami siuman kalau kematian tidak cuma merenggut putranya saja. Kematian merenggut siapapun yang hidup. Beliau juga kesimpulannya paham arti dari hukum ketidakkekalan.

Cara berfikir Buddhis dalam menyikapi kematian adalah menerima kematian sebagai hal yang wajar dan nyata. Buddha manasihati umatnya buat memandang kematian selaku perihal yang alami. Baik bhikkhu ataupun pemeluk biasa kerap dimohon buat senantiasa merenungkan kalau,“ Aku alami hadapi kematian, aku takkan sanggup menjauhi kematian( maraṇadhammomhi, maranaṁ anatīto).” Dengan begitu, kita hendak bijaksana menyikapi kematian banyak orang yang kita cintai, serta pula hendak bijaksana dalam menyambut kematian yang dapat menjemput kita kapan saja, karena dalam hidup kematian adalah pasti

Semoga artikel yang dibagikan oleh situs sangbuddha.com tentang ajaran agama Buddha ini bisa membantu Anda didalam menjalani kehidupan sehari-hari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here