Beranda News Dalam Keadaan Marah Jangan Berbicara

Dalam Keadaan Marah Jangan Berbicara

BERBAGI
dalam keadaan marah jangan berbicara

Dalam Keadaan Marah Jangan Berbicara, karena Berbicara saat sedang marah, “besar kemungkinan” merupakan pelanggaran sila ke 4 pancasila Buddhis ( berbohong, menipu, fitnah, berbicara kasar, dsj ).

Saat kemarahan menguasai diri, si pemarah tidak menyadari yang dipikirkan, diucapkan dan yang dilakukan.

Saat marah memuncak , anda dan saya akan berubah menjadi monster yang tidak kita kenal dalam sekejab, apa saja bisa dilakukan.

Saat emosi berbicara, seperti saat meminum minuman keras, kesadaran akan sangat menurun. Kesadaran disini dikuasai perasaan yang marah, maka tidak menyadari yang dipikirkan, yang dilakukan, yang diucapkan, sehingga kemungkinan besar terjadilah pelanggaran-pelanggaran Sila ke 4 ini ( berbohong, menipu, fitnah, berbicara kasar, dsj ) berbicara tidak sesuai kebenaran dengan kenyataan. Si pemarah akan membuat asumsi2, kesimpulan2 yg tidak sesuai kebenaran dan kenyataan.

Saat emosi berbicara, kata2 yang dikuasai kemarahan akan seperti anak panah, meluncur deras dan setelah di luncurkan tidak dapat ditarik kembali kata2 yang penuh dengan kebohongan, fitnah, kasar akan meluncur deras menyakiti menakutkan orang2 sekitar kita. Saat kemarahan menguasai perasaan, bukan saja kesadaran menurun tidak menyadari yang diucapkan, bahkan perbuatan juga akan cenderung kasar, tidak bermoral lagi, bahkan bisa melakukan perbuatan2 kasar lainnya.

dalam keadaan marah jangan berbicaraBerhati-hatilah terhadap ucapan saat marah, bila sedang marah lebih baik menghindar sementara atau diam, setelah perasaan dapat dikuasai/stabil, pembicaraan dapat dilanjutkan. Berhati2lah terhadap “kemarahan”, Orang yang Pemarah “sangat sering” melakukan pelanggaran sila ini.

Bila bertemu dgn teman yg sedang marah berbicara, ingat kan bahwa ia sedang marah berbicara, jika disadarinya bahwa ia sedang marah, maka kemarahan itu tidak akan dilanjutkan.

Dan apabila marah menjadi kebiasaan sehari-hari, sangat berbahaya, dipastikan mengganggu kesehatan jasmani & rohani.

Teman saya, tempat saya beli barang jualan baru aja stroke ringan karena kebiasaan ini, saya sudah sangat sering “memperingati nya” dari cara yang halus sampai kasar tetapi seperti cacing & kotoran kesayangannya, kebiasaan marah itu tetap diulangi.

Kebiasaan marah penyebab stroke dan bahayanya lagi kebiasaan marah ini biasanya dibawa juga saat sudah stroke, jadi penyembuhan jadi sangat lambat.

Dalam Keadaan Marah Jangan Berbicara Ini Yang Akan Terjadi

Karma buruk yang akan dialami bagi yang melanggar sila ke 4 ini :
dalam kehidupan sekarang akan dijauhi keluarga, teman2 dan kolega, tidak dipercaya orang dan banyak musuh, sering difitnah sekali pun belum tentu bersalah, sering menerima perkataan yang kurang enak di dengar, dan di kehidupan yang akan datang bila terlahir sebagai manusia akan mengalami bisu dan tuli.

Tips menghadapi marah, segera sadar sedang marah, tarik nafas dalam2 melalui hidung, kemudian buang melalui mulut berkali2 anggap kemarahan itu di keluarkan melalui nafas ini, hitungan 1 sd 20.

Dhammapada 221:

  • Kodhaṃ jahe vippajaheyya mānaṃ, saṃyojanaṃ sabbamatikkameyya; taṃ nāmarūpasmimasajjamānaṃ, akiñcanaṃ nānupatanti dukkhā.
  • Hendaklah orang menghentikan kemarahan dan kesombongan, hendaklah ia mengatasi semua belenggu. Orang yang tidak lagi terikat pada batin dan jasmani, yang telah bebas dari nafsu-nafsu, tak akan menderita lagi.

Dhammapada 222:

  • Yo ve uppatitaṃ kodhaṃ, rathaṃ bhantaṃva vāraye; tamahaṃ sārathiṃ brūmi, rasmiggāho itaro jano.
  • Barangsiapa yang dapat menahan kemarahannya yang telah memuncak seperti menahan kereta yang sedang melaju, ia patut disebut sais sejati. Sedangkan sais lainnya hanya sebagai pemegang kendali belaka.

Dhammapada 223:

  • Akkodhena jine kodhaṃ, asādhuṃ sādhunā jine; jine kadariyaṃ dānena, saccenālikavādinaṃ.
  • Kalahkan kemarahan dengan cinta kasih dan kalahkan kejahatan dengan kebajikan. Kalahkan kekikiran dengan kemurahan hati, dan kalahkan kebohongan dengan kejujuran.

Dhammapada 224:

  • Saccaṃ bhaṇe na kujjheyya, dajjā appampi yācito. etehi tīhi ṭhānehi, gacche devāna santike.
  • Hendaknya orang berbicara benar, hendaknya orang tidak marah, hendaknya orang memberi walaupun sedikit kepada mereka yang membutuhkan. Dengan tiga cara ini, orang dapat pergi ke hadapan para dewa.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia sadhu, sadhu, sadhu….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here