Beranda Asal Usul Asal Usul Dewa Petir (Lei Gong) Dalam Agama Buddha

Asal Usul Dewa Petir (Lei Gong) Dalam Agama Buddha

BERBAGI

Asal usul dewa petir (Lei Gong) dalam agama Buddha akan dijelaskan sebagian di dalam situs Sangbuddha.com, untuk menambah wawasan tentang dewa petir.

Jendral langit deng hua (邓 化) adalah Salah satu dari beberapa jendral Guntur yang mutlak di Departemen divisi guntur langit (雷 部).

dan Dalam beberapa konteks lain, dia termasuk dikenal sebagai Deng cheng (邓 成), Deng Zhong (邓忠) atau Deng Bian (邓 燮).

Deng Hua dilahirkan di Zaman Dinasti Jin (生于 j 晋朝 年 间 – 266 – 420M)di Provinsi Jiang Xi,kota Nan Chang (中国 江西省 南昌市). Setelah th. pertama pernikahan ibu Deng Hua(gkk), Madam Hua, tidak bisa mempunyai kandungan anak dan kemudian, suatu hari, dengan semangat dari suaminya, pasangan tersebut mendatangi kelenteng San Qing (三清殿) di propinsi Jiang Xi di Gunung he Ming (江西 鹤鸣山).

Setelah tiba di kelenteng/kuil, Madam Hua terasa terasa perasaan yang tidak nyaman, tetapi dikarenakan tujuannya memberi tambahan penghormatan ke San Qing, ia melanjutkan kegiatannya di kelenteng.

Setelah memberi tambahan persembahan, Madam Hua melanjutkan ke Altar Utama di mana terdapat patung San Qing , dia dengan tulus menyalakan dupa dan berlutut ke di depan Altar, sewaktu ia berlutut, Chang Shou Wan Ming Deng (长寿 万 明灯)alias Lampu minyak, mengeluarkan nada keras dan membuat dia segera mengangkat kepalanya untuk melihat Lampu tersebut, Madam Hua melihat sinar yang berputar & terang yang dipancarkan dari Lampu dan masuk ke perutnya,setelah sinar lampu memasuki perutnya, Madam hua terasa gamang dan dalam beberapa detik, ia pingsan di depan Altar.

Tanpa buang waktu, Tuan Deng lantas membawa madam hua pulang . Setelah sampai di rumah, Tuan Deng memanggil seorang shinshe ke rumah mereka untuk jalankan pengecekan pada keadaan Nyonya Hua dan shin she memberitahukan bahwa Nyonya Hua(gkk) tengah hamil sepanjang 3 Bulan.

Pada suatu malam, Nyonya Hua membawa mimpi, melihat anak kecil berwarna hijau terjadi ke arahnya dan kemudian, menyelinap masuk ke perutnya. Dengan ngeri, dia bangun segera dan mengemukakan mimpi tersebut kepada suaminya. Setelah menebak-nebak mimpi , keduanya memastikan untuk mendatangi Kuil San Qing kembali pada 15lunar(capgo).

Segera, tgl 15capgo) tiba. Keduanya bangun pagi-pagi dan menyiapkan diri untuk berkunjung ke ke kelenteng.begitu mereka berdua terjadi masuk ke dalam lokasi Gunung He Ming, seorang pendeta Tao mendekati mereka.

Setelah membungkuk dan menegur kepada Pasangan tersebut, pendeta tao itu memberi tambahan ucapan selamat kepada pasanagan tersebut dikarenakan mereka akan punya Anak yang Luar Biasa,Pasangan tersebut lantas tertegun dan dalam kebingungan,kemudian mereka melanjutkan untuk berdoa berharap apa yang diucapan pendeta tersebut jadi kenyataan.

Waktu berlalu dan 10 bulan telah berlalu. Pada pagi Hari ke-5 dari Lunar 5 Bulan, Ibu hua merasakan sakit tremedous dalam perutnya dan dalam beberapa saat, Deng Hua lahir. Pada sementara kelahirannya keluar sinar hijau yang dipancarkan dari rumahnya tembus ke Langit, beberapa besar tetangga dikejutkan oleh adegan ini dan segera,rumah mereka ramai didatangi orang-orang.

Setelah menyadari bahwa Deng Hua lahir, tetangga memberi tambahan ucapan selamat pada Pak Deng dan berkomentar bahwa Deng Hua mungkin seseorang yang istimewa di era depan.

Delapan Tahun berlalu. Satu Hari, saat Deng Hua berada di hutan dengan dengan ayahnya, pendeta Tao yang sama keluar didepan mereka. Segera berlari menuju Deng hua pendeta tao lantas memberi hormat didepan deng hua dan memanggilnya Master. Pak Deng terkejut dengan reaksi tesebut dan jadi bingung.

Setelah pendeta menyebutkan kepadanya mengenai asal usul deng hua yang terlahir dari Dewa Guntur dan kini terlahir sebagai Deng Hua,Pak Deng terasa terlampau senang, pendeta tersebut lantas berharap sehingga Deng hua jadi Muridnya, tuan Deng sepakat dan membiarkan deng Hua pergi ikuti Guru-Nya tinggal di kuil demi meniti pelatihan.

Dalam sementara 8 tahun, Deng Hua diajarkan Semua Keterampilan spiritual yang terlampau pentinng seperti Lei Fa (雷 法), Fu Fa (符 法) dan ramalan. Pada usia 16, Deng Hua disuruh oleh gurunya untuk pulang kembali ke rumahnya sendiri. Dengan perasaan sedih dan dan berat, Deng Hua mesti berangkat dan berpisah dengan gurunya dan pulang kembali ke rumahnya.

Dalam perjalanan pulang, ia lewat kuil yang belum pernah keluar pada mulanya di era lalu. Dengan penasaran, ia pergi ke kuil dan memeriksa siapa Dewa Utama di kuil tersebut. baru saja ia melangkah ke menuju ke dalam kuil, ia merasakan bahwa Energi Negatif yang terlampau kuat pancarkan keluar dari Altar. Dan, Deng Hua memastikan untuk membuka Mata ke-3 untuk memeriksa Misteri Energi tersebut.baru saja ia akan melakukannya, sebuah tiupan energi Hitam tiba-tiba menghamtam terbang ke arahnya dengan nada yang keras , maka hembusan energi Hitam menghantam ke Dahi Deng Hua.

Dengan terkejut dan reflek, Deng Hua membacakan mantra sehingga mata ke 3 nya selalu terbuka selalu di Dahinya.tapi ternyata telah terlambat untuk membuat pergantian dan sebagainya, Deng Hua terpaksa mesti terima tiupan angin tersebut,Segera sesudah mata ke 3nya terbuka, ia melihat bahwa Semua Patung telah dirasukii oleh Roh Pegunungan, rimba dan rumput.

Mengetahui bahwa Roh tersebut berada di sini untuk mengganggu kedamaian orang awam/orang biasa dan akan mengambil hawa Energi Positif dari Orang normal, Deng Hua terlampau terganggu oleh motif-motif mereka dan,kemudian dia membuat mantra Spiritual memanggil Lima azimat Guntur (五雷 召 号) , Deng Hua menyerukan kepada dewa guntur dari Departemen guntur untuk tiba di kuil dan menghancurkan kuil tersebut dengan segera.

Setelah terima Perintah, para Dewa Guntur tiba di Kuil dalam beberapa sementara dan dengan atas Perintah Deng Hua, kuil dihancurkan oleh gelegar gemuruh guntur yang terlampau luar bisa kerasnya,setelah Kuil yang di kuasai roh Jahat dihancurkan,kota mereka kembali damai.

Dalam rangka untuk berterima kasih- pada Deng hua,masyarakat awam lantas sepakat membuat kontribusi dan membangun sebuah kuil mendedikasikannya untuk Deng Hua di daerah di kuil bekas yang di kuasai oleh roh jahat tersebut.

Kembali ke rumah sesudah menghancurkan kuil yang dikuasai roh jahat, Deng Hua menemukan bahwa ke dua orang tua-nya telah meninggal dunia akibat Wabah penyakit yang terjadi di kota kelahirannya. Dengan kesedihan dan rasa kekecewaan, Deng Hua memberi tambahan penghormatan yang paling akhir di altar ke dua orang tua-nya dan kemudian, kembali ke daerah tinggal Gurunya.

Dewa-petir

Asal Usul Dewa Petir Deng Hua

Pada usia 36, suatu hari saat Deng Hua berada di lapangan dan tengah mempraktikkan-keterampilan spiritualnya, gelegar nada petir yang keras terdengar dari atas dan sebuah sinar bercahaya emas menuju pada dirinya dan dia dipanggil kembali ke Istana langit.Pada sementara ikuti sinar Emas tersebut naik ke Istana langit,ia berpaling dan melihat kebawah bahwa Tubuh fisik nya masih ada di daerah lapangan tersebut dan sekarang, ia telah berubah kebentuk yang lain dan berWajah berwarna Hijau (青 面), bermulut Burung (雷公 嘴), Tiga Mata (三眼) Dan rambut berwarna merah (赤 发).

Setelah tiba di Istana langit, Deng hua dituntun untuk memberi tambahan penghormatan pada Kaisar Langit(玉皇 大 天尊).

Dan dengan Segera, Deng Hua mendengar bahwa Kaisar Langit meng-anugerahkan deng hua dengan titel Ying Yuan Bao Yun Miao Hua Zhen Jun (应 元 保 运 妙 化 真君), Guang Miao Heng Tian Yan Zhen Da Yuan Shuai(光妙橫天演真大元帥) dan berkedudukkan di divisi Lima petir dan menghilangkan segala kejahatan & iblis.

julukkan/titel resmi lainnya diberikan kepadanya di Era yang berbeda, julukkan seperti itu:

  • Wu Hua Deng Jiang Jun (五花鄧將軍)
  • Dong Fang Tie Bang Kao Gui Deng Yuan Shuai (東方鐵棒拷鬼鄧元帥)
  • Lei Ting Zhu Ling Deng Tian Jun (雷霆主令鄧天君)
  • Lei Ting Du Du Yuan Shuai Deng Bian (雷霆都督元帥鄧燮)

Asal-usul dewa petir dalam agama Buddha terdiri dari:

  1. Leizu(datuk geledek)
  2. Leigong(pangeran geledek)
  3. Fengbo(pangeran angin)
  4. Dianmu( ibu kilat), paling akhir adalah Yushi (malaikat hujan)

Semoga artikel seo di situs Sangbuddha.com bisa menambah ilmu pengetahuan Anda didalam menjalankan ajaran Agama Buddha.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here